Seputih Melati

16 09 2008

Melati tak pernah berdusta dgn apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna di balik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpa warna lain untuk berbagai keadaannya. Apapun kondisinya panas hujan terik maupun badai. Pada debu ia tak kan marah meskipun jutaan butir menghinggapinya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya.Agar siapapun tak melihat ia bersedih, karna saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes.Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya untuk mengadu saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap getirannya.

Pada tangkai ia bersandar agar tetap meneguhkan kedudukan memeluk werat sayapnya memberikan kekuatan dalam menjalankan kewajibannya menserikan alam. Agar kelak apapun cobaan yang datang ia dengan sabar dan suka cita merasai bahkan menikmati sebagi bagian dari cinta kasih Sang Pencipta. Bukahkah tak ada cinta tampa pengorbanan ? Adakah kasih sayang tanpa cobaan ?

Pada sang alam ia meminta. agar dibimbing dan dilindungi selamanya ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Jika pada masanya ia akan jatuh luruh ke tanah ia akan tetap sebagai melati seputih melati.

Dan kepada melatiku tetaplah menjadi melati di tamanku. Karna aku akan menjadi angin menjadi hujan menjadi tangkai menjadi matahari menjadi daun dan alam semesta. Tetapi takakan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.